Tampilkan postingan dengan label IPTEK PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPTEK PERTANIAN. Tampilkan semua postingan

06 November 2019

ECO FARMING PAHLAWAN PETANI

1 komentar
H. Mahmunir, SP
Eco Farming Nutrisi Tanaman Plus Restorasi KesuburanTanah solusi Menuju Pertanian Sehat dan Ramah Lingkungan
Encum Nurhidayat. (ID-LX8197186  ; Alumni UNIBBA  Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian)

Eco Farming adalah pupuk atau nutrisi berbahan organik super aktif yang sudah mengandung unsur hara lengkap sesuai kebutuhan tanaman juga dilengkapi dengan bakteri positif yang akan menjadi biokatalisator dalam proses memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia dalam rangka mengembalikan kesuburan tanah.

Eco Farming dapat menekan kebutuhan pupuk lainnya sampai 25%, bahkan 0% sehingga bisa menjadi alternatif pengembangan produksi pertanian sehat ramah lingkungan menjadi lebih praktis, efektif, efisien dan ekonomis (menghemat biaya pemupukan).


Eco Farming memiliki 2 (dua) sasaran utama yaitu :


  1. Memperbaiki struktur dan tekstur (fisik tanah), biologi dan kimia tanah sehingga lahan menjadi sehat dan subur sebagai media tumbuh bagi tanaman.
  2. Menyediakan nutrisi atau unsur hara tanaman lengkap  sehingga tanaman akan tumbuh normal dan  sehat serta akan menghasilkan produksi panen optimal bahkan maksimal (minimal 6 kali/musim sesuai siklus hidupnya).


Manfaat utama Eco Farming menjadikan tanah subur kembali sebagai media tumbuh dan tanaman yang tumbuh berkembang diatasnya akan normal dan sehat. Manfaat lainnya adalah :


  • Meningkatkan unsur hara tanah
  • Mencegah gangguan hama tanaman
  • Mempercepat masa panen
  • Meningkatkan kuantitas hasil panen secara bertahap. 
  • Meningkatkan kualitas hasil panen
  • Meringankan biaya produksi 


Formulasi Aplikasi Eco Farming untuk tanaman padi sawah luasan lahan 1 hektar dibutuhkan 10 tube

A. 10 tube dilarutkan terlebih dahulu dengan 10 liter air minimal 15 menit sebelum aplikasi semprot. Semakin lama dilarutkan semakin baik. Apabila larutan eco farming disimpan dalam waktu lama bisa ditambahkan molase (air tetesan tebu) atau air gula 10% dari volume larutan tersebut.

B. Dosis standar 10 liter per hektar dibagi dua:

I. 6 liter untuk aplikasi semprot di lahan minimal 5 hari sebelum tanam.
Untuk memudahkan apabila luasan 1 ha biasanya 10 kali semprot, maka 6 liter dibagi ke dalam 10 botol plastik bekas air mineral sehingga dosis yang didapat 600 ml per sekali semprot.

II. 4 liter untuk aplikasi semprot 4 tahapan, yaitu:

a. Apabila 1 ha biasanya 10 kali semprot, maka 1 liter di bagi ke dalam 10 gelas plastik bekas air mineral sehingga didapat dosis 100 ml per sekali semprot pada saat umur 14 hari setelah tanam,

b. Apabila 1 ha biasanya 12 kali semprot, maka 1 liter di bagi ke dalam 12 gelas plastik bekas air mineral sehingga didapat dosis 83,3 ml per sekali semprot pada saat umur 28 hari setelah tanam,

c.  Apabila 1 ha biasanya 12 kali semprot, maka 1 liter di bagi ke dalam 12 gelas plastik bekas air mineral sehingga didapat dosis 83,3 ml per sekali semprot pada saat umur 42 hari setelah tanam,

d. Apabila 1 ha biasanya 12 kali semprot, maka 1 liter di bagi ke dalam 12 gelas plastik bekas air mineral sehingga didapat dosis 83,3 ml per sekali semprot pada saat umur 56 hari setelah tanam,

C. Aplikasi penyemprotan sebaiknya tidak dicampur dengan pestisida atau zpt lainnya dan alat semprot (hand sprayer) dicuci dengan air hangat sebelum digunakan untuk pupuk eco farming (tidak berlaku bila hand sprayer khusus)

D. Waktu penyemprotan sebaiknya dilakukan pagi sebelum jam 10 pagi atau  setelah jam 4 sore.

E. Jumlah aplikasi semprot per luasan lahan akan berpengaruh pada dosis yg tepat dan akan berpengaruh pada produksi tanaman.

Semoga Bermanfaat dan Menjadi Solusi bagi Petani.

_GO ORGANIK NO KIMIA_
_GO BERKAH NO RIBA_

Solusi Cerdas Zaman Now >>>>>> Eco Farming Panen Wow
Read more

26 April 2018

VARIETAS BENIH PADI DARI MASA KE MASA

0 komentar

Sekitar tahun 1943, keluarlah SK benih bermutu yang bernama Bengawan. Umur padi bengawan ini sekitar 155-160 hari, umurnya di atas 5 bulan. Untuk tingginya, tanaman ini berkisar 145-165 cm. Potensi hasil belum diketahui pasti.

Untuk tahun 1960an, varietas yang dihasilkan salah satunya adalah PB5. Dilepas pemerintah pada tahun 1967. Umur padi ini berkisar antara 135-145 hari. Sedangkan mengenai tingginya 100-130 cm. Untuk hasil produksinya sekitar 4,5-5,5 ton/ha gkg.

Tahun 1978, salah satu benih bermutu yang keluar adalah Berantas. Umur varietas ini 125-130 hari dengan tinggi 105-110 cm. Varietas ini mempunyai potensi hasil 4,0 – 4,5 ton / ha gabah kering.

Sekitar tahun 1980an, tepatnya sekitar tahun 1986, keluarlah varietas unggul padi yang terkenal sampai sekarang yaitu IR64. Umur tanaman ini lebih genjah dari varietas-varietas sebelumnya, yaitu sekitar 121 hari. Tinggi tanamannya cuma 101 cm. Rata-rata dan potensi hasilnya sekitar 5-6 ton/ha gkg.

Pada awal tahun 2000 ini, varietas yang terkenal dikeluarkan adalah varietas ciherang.  Varietas ini begitu dikenal petani, sampai suatu masa ada sekitar 47 % petani kita menggunakan varietas ini. Umur varietas ini 116-125 hari dengan tinggi tanaman 107  cm. Untuk potensi hasilnya juga makin meningkat yaitu sekitar 5-8,5 ton/ha gkg.

Sekitar tahun 2008, muncullah benih padi dengan nama Inpari. Benih unggul Inpari ini sejak 2008 sampai tahun 2011 sudah ada 20 varietas, dari Inpari 1-20. Dengan keunggulan yang lebih baik dari varietas sebelumnya.

Dilihat dari keluarnya benih unggul padi dari masa ke masa, terlihat dari umur padi yang tadinya mencapai 155-160 hari bisa mencapai 100 hari. Demikian pula dengan tinggi tanaman, di tahun 1940an ada tanaman yang tingginya 145-165 dengan ilmu pengetahuan yang semakin berkembang tinggi tanaman ini bisa mencapai rata-rata 100 cm. Bahkan untuk inpari 1 tingginya mencapai 93 cm.

Untuk umur tanaman dan tinggi tanaman semakin berkurang, tapi untuk hasil kebalikannya. Hasil panen dari tahun ke tahun harus semakin meningkat.

Ada sebuah pertanyaan, apakah 10 tahun kedepan ada benih unggul yang berumur 90 hari dengan potensi hasil mencapai 12 ton/ha gkg? bisa saja. Waktulah yang akan menyingkapnya.

Referensi : BB padi

Read more

06 Maret 2012

BAKTERI PELARUT POSFAT

0 komentar
LENTERA TANI-.Unsur fosfat (P) adalah unsur esensial kedua setelah N yang ber­peran penting dalam fotosintesis dan perkembangan akar. Ketersediaan fosfat dalam tanah jarang yang melebihi 0,01 % dari total P. Sebagian besar bentuk fosfat terikat oleh koloid tanah sehingga tidak tersedia bagi tanaman.
 
Tanah dengan kandungan organik rendah seperti Oksisols dan Ultisols yang banyak terdapat di Indonesia kandungan fosfat dalam organik bervariasi dari 20-80%, bahkan bisa kurang dari 20% tergantung tempat. Demikian juga kebanyakan lahan sawah di Indonesia telah jenuh fosfat. Fosfat tersebut tidak dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh tanaman, karena fosfat dalam bentuk P- terikat di dalam tanah, sehingga petani tetap melakukan pemupukan P di lahan sawah walaupun sudah terdapat kandungan P yang cukup memadai. 
 
Pada tanah-tanah masam, fosfat akan bersenyawa dalam bentuk-bentuk AI-P, Fe-P, dan occluded-P,sedangkan pada tanah-tanah alkali, fosfat akan bersenyawa dengan kalsium (Ca) sebagai Ca-P membentuk senyawa kompleks yang sukar larut.
 
Adanya pengikatan-pengikatan fosfat tersebut menyebabkan pupuk fosfat yang diberikan tidak efisien, sehingga perlu diberikan dalam takaran tinggi. Pemberian pupuk fosfat ke dalam tanah, hanya 15-20% yang dapat diserap oleh tanaman. Sedangkan sisanya akan terserap di antara koloid tanah dan tinggal sebagai residu dalam tanah. Hal ini akan menyebabkan defisiensi fosfat bagi pertumbuhan tanaman.
 
Salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi pemupukan fosfat dalam mengatasi rendahnya fosfat tersedia dalam tanah adalah dengan memanfaatkan kelompok mikroorganisme pelarut fosfat, yaitu mikro­organisme yang dapat melarutkan fosfat tidak tersedia menjadi tersedia sehingga dapat diserap oleh tanaman. Pemanfaatan mikro-organisme pelarut fosfat diharapkan dapat mengatasi masalah P pada tanah masam.
 
Mikro-organisme pelarut fosfat terdiri atas bakteri, fungi dan sedikit aktinomiset. Mikroorganisme yang termasuk dalam kelompok bakteri pelarut fosfat antara lain Pseudomonas striata, P. diminuta, P. fluorescens, P. cerevisia, P. aeruginosa, P. putida, P. denitrificans, P. rathonis, Bacillus, polymyxa,B.laevolacticus,B.megatherium, Thiobacillus sp., Mycobacterium, Micrococcus Flavobacterium, Escherichia freundii, Cunninghamella, Brevibacterium spp., Serratia spp., Alcaligenes spp., Achromobacter spp., dan Thiobacillus sp. Kelompok bakteri pelarut fosfat yang banyak terdapat pada lahan pertanian di Indonesia berasal dari genus Enterobacter dan Mycobacterium.
 
Sedangkan fungi yang dapat melarutkan fosfat umumnya berasal dari kelompok Deutromycetes antara lain Aspergillus niger,, A. awamori, P. digitatum, P. bilaji, Fusarium, Sclerotium, Aspergillus niger, dan lain-lain. Fungi pelarut fosfat yang dominan di tanah adalah Penicillium dan Aspergillus. Fungi pelarut fosfat yang dominan ditemukan di tanah masam Indonesia ialah Aspergillus niger dan Penicillium.
 
Penyebaran mikroorganisme pelarut fosfat
 
Umumnya mikroorganisme pelarut fosfat secara alami berada di tanah berkisar 0,1-0,5% dari total populasi mikroorganisme. Populasi mikroorganisme pelarut fosfat dari kelompok bakteri jauh lebih banyak dibandingkan dengan kelompok fungi. Jumlah populasi bakteri pelarut fosfat dapat mencapai 12 juta organisme per gram tanah sedangkan fungi pelarut fosfat hanya berkisar dua puluh ribu sampai dengan satu juta per gram tanah.
 
Mikroorganisme ini hidup terutama di sekitar perakaran tanaman, yaitu di daerah permukaan tanah sampai kedalaman 25 cm dari permukaan tanah. Keberadaan mikroorganisme ini berkaitan dengan banyaknya jumlah bahan organik yang secara langsung mempengaruhi jumlah dan aktivitas hidupnya. Akar tanaman mempengaruhi kehidupan mikroorganisme dan secara fisiologis mikroorganisme yang berada dekat dengan daerah perakaran akan lebih aktif daripada yang hidup jauh dari daerah perakaran.
 
Keberadaan mikroorganisme pelarut fosfat dari suatu tempat ke tempat lainnya sangat beragam. Salah satu faktor yang menyebabkan keragaman tersebut adalah sifat biologisnya. Ada yang hidup pada kondisi asam, dan ada pula yang hidup pada kondisi netral dan basa, ada yang hipofilik, mesofilik, dan termofilik, ada yang hidup sebagai aerob dan ada yang anaerob, dan beberapa sifat lain yang bervariasi. Masing-masing mikroorganisme memiliki sifat-sifat khusus dan kondisi Iingkungan optimal yang berbeda-beda yang mempengaruhi efektivitasnya melarutkan fosfat.
 
Pertumbuhan mikroorganisme pelarut fosfat sangat dipengaruhi oleh kemasaman tanah. Pada tanah masam, aktivitas mikroorganisme didominasi oleh kelompok fungi sebab pertumbuhan fungi optimum pada pH 5-5,5. Pertumbuhan fungi menurun bila pH meningkat. Fungi dalam tanah berbentuk miselium vegetatif ataupun spora. Miselium atau filamen fungi tersebar di antara partikel tanah dan tersusun dalam hifa-hifa, ada yang bersepta dan ada yang tidak.
 
Sebaliknya pertumbuhan kelompok bakteri optimum pada pH sekitar netral dan meningkat seiring dengan meningkatnya pH tanah. Secara umum bakteri pelarut fosfat yang dominan yang diisolasi dari rizosfer tanah termasuk ke dalam golongan mikroorganisme aerob pembentuk spore, hidup pada kisaran pH 4-10,6.
 
Populasi bakteri pelarut fosfat umumnya lebih rendah pada daerah yang beriklim kering dibandingkan dengan daerah yang beriklim sedang. Karena bentuk dan jumlah fosfat dan bahan organik yang terkandung dalam tanah berbeda-beda, maka keefektifan tiap mikro-organisme pelarut fosfat untuk melarutkan fosfat berbeda pula. Penggunaan mikroorganisme pelarut fosfat masih menghadapi beberapa kendala seperti faktor tanah, karena setiap jenis tanah mempunyai bentuk fosfat yang berbeda-beda antara lain pada lahan masam bentuk fosfat didominasi oleh Al-P, Fe-P atau occluded-P sedangkan pada lahan basa didominasi oleh bentuk Ca-P. Jadi masing­-masing lahan seperti itu memerlukan inokulan pelarut fosfat yang berbeda.
 
Mekanisme pelarutan fosfat
 
Di dalam tanah, fosfat dapat berbentuk organik dan anorganik yang merupakan sumber fosfat penting bagi tanaman. Fosfat organik berasal dari bahan organik, sedangkan fosfat anorganik berasal dari mineral-mineral yang mengandung fosfat. Pelarutan senyawa fosfat oleh mikroorganisme pelarut fosfat berlangsung secara kimia dan biologis baik untuk bentuk fosfat organik maupun anorganik. Mikroorganisme pelarut fosfat membutuhkan adanya fosfat dalam bentuk tersedia dalam tanah untuk pertumbuhannya.
 
Mekanisme pelarutan fosfat secara kimia merupakan mekanisme pelarutan fosfat utama yang dilakukan oleh mikroorganisme. Mikro­organisme tersebut mengekskresikan sejumlah asam organik berbobot molekul rendah seperti oksalat, suksinat, tartrat, sitrat, laktat, a-ketoglutarat, asetat, formiat, propionat, glikolat, glutamat, glioksilat, malat, fumarat.
 
Meningkatnya asam-asam organik tersebut diikuti dengan penurunan pH. Penurunan pH juga dapat disebabkan karena terbebasnya asam sulfat dan nitrat pada oksidasi kemoautotrofik sulfur dan amonium, berturut-turut oleh bakteri Thiobacillus dan Nitrosomonas. Perubahan pH berperanan penting dalam peningkatan kelarutan fosfat. Selanjutnya asam-asam organik ini akan bereaksi dengan bahan pengikat fosfat seperti AL3+, Fe3+,Ca2+, atau Mg2+ membentuk khelat organik yang stabil sehingga mampu membebaskan ion fosfat terikat dan oleh karena itu dapat diserap oleh tanaman.
 
Beberapa hasil penelitian dalam dekade terakhir, antara lain hasil penelitian Moghimi dan Tate(1978) menyimpulkan bahwa asam 2- ketoglukonat yang banyak terdapat pada rizosfir gandum berperan sebagai penyedia ion hidrogen untuk melarutkan hidroksiapatit, tetapi bukan sebagai agen pengkhelat kalsium. Ditambahkan oleh hasil penelitian Kim et al. (1997) yang menyimpulkan bahwa meskipun asam yang diproduksi berperan penting dalam pelarutan hidroksiapatit, mekanisme ini bukan satu­satunya cara mikroorganisme pelarut fosfat melarutkan P-terikat. Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa pelarutan P dipacu oleh pelepasan proton dalam proses respirasi atau pembentukan NH4+ .
 
Pelarutan fosfat secara biologis terjadi karena mikroorganisme tersebut menghasilkan enzim antara lain enzim fosfatase dan enzim fitase. Fosfatase merupakan enzim yang akan dihasilkan apabila ketersediaan fosfat rendah. Fosfatase diekskresikan oleh akar tanaman dan mikroorganisme, dan di dalam tanah yang lebih dominan adalah fosfatase yang dihasilkan oleh mikroorganisme (loner et al., 2000). Pada proses mineralisasi bahan organik, senyawa fosfat organik diuraikan menjadi bentuk fosfat anorganik yang tersedia bagi tanaman dengan bantuan enzim fosfatase. Enzim fosfatase dapat memutuskan fosfat yang terikat oleh senyawa-senyawa organik menjadi bentuk yang tersedia.
 
Louw dan Webley (1959) meyakini bahwa salah satu mekanisme pelepasan P yang terikat pada besi fosfat terkait dengan hidrogen sulfida (H2S) yang diproduksi oleh bakteri pelarut fosfat. Pengkhelatan Fe3+dari Fe-P oleh siderophore (ferric-specific chelates) yang diproduksi oleh beberapa bakteri pelarut fosfat juga diyakini sebagai salah satu mekanisme pelarutan hara P pada tanah-tanah masam (Mullen, 1998).
 
Hasil penelitian Louw dan Webley (1958; 1959) menggunakan berbagai sumber P menunjukkan bahwa beberapa isolat bakteri pelarut fosfat yang digunakan mampu melepaskan/melarutkan P dari batuan fosfat Gafsa (hidroksiapatit) dan kalsium fosfat, tetapi tidak satupun dari isolat tersebut mampu melepaskan P dalam bentuk variscite (AIPO4. 2H2O), strengite (FePO4.2H2O), dan taranakite (2K2O.3AI2O3. 5P2O5. 26H2O)yang banyak terdapat pada tanah-tanah masam. Hasil ini mengindikasikan bahwa ada perbedaan mekanisme pelepasan P-terikat pada tanah-tanah bereaksi netral dan basa dengan tanah-tanah bereaksi masam. Penelitian lebih jauh mengenai mekanisme pelepasan unsur P-terikat pada tanah-tanah masam yang banyak terdapat di daerah tropika seperti di Indonesia masih sangat diperlukan.
 
Aktivitas mikroorganisme pelarut fosfat sangat tergantung pada pH tanah. Kecepatan mineralisasi juga meningkat dengan nilai pH yang sesuai bagi metabolisme mikroorganisme dan pelepasan fosfat akan meningkat dengan meningkatnya nilai pH dari asam ke netral. Selain itu, kecepatan mineralisasi ternyata berkorelasi langsung dengan jumlah substrat. Tanah-tanah yang kaya fosfat organik merupakan tanah yang paling aktif bagi berlangsungnya proses mineralisasi.
 
Asam-asam organik yang dihasilkan mikroorganisme berbeda kualitas dan kuantitasnya dalam membebaskan fosfat. Asam-asam organik yang dihasilkan mikroorganisme pelarut fosfat, mempunyai kemampuan untuk melarutkan fosfat dari yang terkuat sampai terlemah menurut urutan sebagai berikut: sitrat > oksalat > tartat > malat > HCI. Nagarajah et al. (1970) menggolongkan asam sitrat dan oksalat sangat efektif dalam melarutkan fosfat dari kaolinit dan gibsit, sedangkan asam malonat, tartarat dan malat, keefektifannya sedang, serta asam asetat dan suksinat digolongkan kurang efektif. Pada tanah vulkanik yang kaya alovan, asam-asam organik (benzoat, p-OH benzoat, salisilat, dan ptalat) tidak mampu melarutkan fosfat. Earl et aI. (1979) meneliti pengaruh asam organik (sitrat, tartarat, dan asetat) pada gel Al dan Fe terhadap jerapan P. 
 
Hasilnya menunjukkan bahwa tanpa anion organik, makea Fe menjerap P dalam jumlah yang sangat banyak, Asam sitrat menjerap P jauh lebih banyak dibanding tartarat, demikian pula dalam hal mengurangi P terjerap. Tetapi jumlah Al yang diikat kedua asam tersebut tidak berbeda. Asam asetat tidak efektif dalam melarutkan fosfat, karena asetat kurang kuat dalam membentuk kompleks dengan Al maupun Fe.
 
Asam organik dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah, melalui beberapa mekanisme, diantaranya adalah: (1) anion organik bersaing dengan ortofosfat pada permukaan tapak jerapan koloid tanah, yang bermuatan positif, sehingga memperbesar peluang ortofosfat dapat diserap oleh tanaman; (2) pelepasan ortofosfat dari ikatan logam-P melalui pembentukan kompleks logam organik; dan (3) modifikasi muatan permukaan tapak jerapan oleh ligan organik.
 
Hue et al. (1986) melaporkan bahwa beberapa asam organik juga dapat mengurangi daya racun AI yang dapat dipertukarkan (AI-dd) pada tanaman kapas. Kemampuan detoksifikasi asam organik terhadap Al-dd digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu kuat (sitrat, oksalat, dan tartarat), sedang (malat, malonat, dan salisilat), dan lemah (suksinat, laktat, asetat, dan ptalat). Selain itu, Premono et al. (1992) juga mendapatkan bahwa mikroorganisme pelarut fosfat secara nyata mampu mengurangi Fe, Mn, dan Cu yang terserap oleh tanaman jagung yang ditanam pada tanah masam, sehingga berada pada tingkat kandungan yang normal. Terdapatnya asam-­asam organik sitrat, oksalat, malat, tartarat dan malonat di dalam tanah sangat penting artinya dalam mengurangi pengikatan P oleh unsur penjerapnya dan mengurangi daya racun aluminium pada tanah masam.
 
Selain mengasimilasi fosfat yang dibebaskannya, mikroorganisme tersebut menghasilkan sejumlah besar fosfat terlarut sebagai kelebihan dari pasokan nutrisinya ke dalam larutan tanah. Dengan pelarutan fosfat oleh mikroorganisme tersebut, maka fosfat tersedia dalam tanah meningkat dan dapat diserap oleh akar tanaman. Untuk dapat mencapai akar secara alami hara fosfat yang larut masuk melalui mekanisme difusi./

disalin dari Buku Pupuk Organik dan Pupuk Hayati – BPPP.
Read more

17 Juli 2011

Padi Emas

0 komentar
Apa yang dimaksud dengan Padi Emas?
Istilah Padi Emas diberikan kepada padi yang direkayasa secara genetik dengan beras berwarna kuning-oranye karena mengandung beta-karoten. Tubuh manusia mengubah beta- karoten menjadi vitamin A. Varietas Padi Emas yang dikembangkan akhir-akhir ini mengandung suatu gen dari jagung atau tanaman daffodil dan suatu gen dari bakteria tanah (Erwinia). Produk enzim dari gen-gen ini menyebabkan terbentuknya likopen dalam beras yang kemudian diubah menjadi beta- karoten dan karatenoid provitamin A lainnya oleh enzim yang terdapat dalam beras.

Di seluruh dunia, diperkirakan 125 juta anak terutama yang berada di negara sedang berkembang menderita kekurangan vitamin A yang menyebabkan kebutaan dan kematian. Satu juta orang meninggal setiap tahun disebabkan oleh kekurangan vitamin A dan malnutrisi. Di sebagian besar negara berkembang ini, beras adalah makanan pokok.

Beras yang disosoh yang umum dikonsumsi masyarakat tidak mengandung beta-karoten atau bentuk lain dari provitamin A dan sangat sedikit mengandung mikronutrisi lain seperti besi dan seng.

Informasi Ringkas

Teknologi Padi

Kapan Padi Emas Bisa Ditanam di Lahan Petani?

Varietas Padi Emas terbaru yang telah dikembangkan oleh swasta di Amerika Serikat kurang cocok untuk dikembangkan di Asia. IRRI dan anggota Jaringan Kerja Padi Emas lainnya (India, Filipina, Cina, Bangladesh, Vietnam, dan Indonesia) telah mulai melakukan pemuliaan sifat tadi ke varietas yang cocok untuk Asia. Pengujian di Asia di lahan petani diharapkan dimulai pada tahun 2008. Setelah melalui berbagai uji lapang yang lebih luas serta memenuhi persyaratan keselamatan hayati (biosafety), varietas yang cocok untuk Asia ini baru bisa dilepas untuk ditanam secara luas. Proses ini memerlukan waktu beberapa tahun.

Apakah Padi Emas akan Lebih Mahal daripada Padi Biasa?

Teknologi yang terlibat dalam pengembangan Padi Emas diberikan secara gatis oleh para penciptanya (Ingo Potrykus, ETH-Zurich dan Peter Beyer, Univ. Freiburg) yang menggunakan donasi untuk ijin hak intelektual dari beberapa perusahaan swasta. Dengan demikian, tidak akan ada biaya ekstra guna memperoleh benih tersebut dari IRRI untuk digunakan secara lokal. Petani pun bisa menyimpan benihnya untuk digunakan bagi pertanaman berikutnya.

IR64 yang mengandung betakaroten diharapkan dapat diuji di Indonesia satu atau dua tahun lagi. Beras varietas IR64 (kiri) dan IR64 yang telah mengandung betakaroten (kanan). Informasi lebih lanjut kunjungi: http://balitpa.litbang.deptan.go.id; htpp://www.puslittan.bogor.net; www.litbang.deptan.go.id; www.knowledgebank.irri.org Kerjasama: Badan Litbang Pertanian - IRRI


Sumber: IRRI Rice Knowledge Bank (bahan oleh Gerard Barry) Disadur oleh: MSyam
Read more

16 Juli 2011

TANAM PADI SAWAH JAJAR LOGOWO

4 komentar
PENDAHULUAN

Padi merupakan tanaman pangan utama penduduk Indonesia, sebagian besar ditanam di lahan sawah. Kendala produktivitas lahan sawah diantaranya akibat serangan hama, penyakit dan gulma. Perkembangan pengganggu tanaman ini sering didukung oleh cara tanam yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.

LEGOWO
   
Legowo adalah cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan tanaman kemudian diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir ½ kali jarak tanaman pada baris tengah.
   
Cara tanam jajar legowo untuk padi sawah secara umum bisa dilakukan dengan berbagai tipe yaitu: legowo (2:1), (3:1), (4:1), (5:1), (6:1) atau tipe lainnya. Namun dari hasil penelitian, tipe terbaik untuk mendapatkan produksi gabah tertinggi dicapai oleh legowo 4:1, dan untuk mendapat bulir gabah berkualitas benih dicapai oleh legowo 2:1.
   
Pengertian jajar legowo 4 : 1 adalah cara tanam yang memiliki 4 barisan kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam >2 kali jarak tanam pada barisan tengah. Dengan demikian, jarak tanam pada tipe legowo 4 : 1 adalah 20 cm (antar barisan dan pada barisan tengah) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong).
   
Pengertian jajar legowo 2 : 1 adalah cara tanam yang memiliki 2 barisan kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam 1/2 kali jarak tanam antar barisan. Dengan demikian, jarak tanam pada tipe legowo 2 : 1 adalah 20 cm (antar barisan) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong).
   
Modifikasi jarak tanam pada cara tanam legowo bisa dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Secara umum, jarak tanam yang dipakai adalah 20 cm dan bisa dimodifikasi menjadi 22,5 cm atau 25 cm sesuai pertimbangan varietas padi yang akan ditanam atau tingkat kesuburan tanahnya.
   
Jarak tanam untuk padi yang sejenis dengan varietas IR-64, seperti varietas Ciherang cukup dengan jarak 20 cm, sedangkan untuk varietas padi yang punya penampilan lebih lebat dan tinggi perlu diberi jarak tanam yang lebih lebar misalnya antara 22,5 - 25 cm. Demikian juga pada tanah yang kurang subur cukup digunakan jarak tanam 20 cm, sedangkan pada tanah yang lebih subur perlu diberi jarak tanam yang lebih lebar misalnya 22,5 cm atau pada tanah yang sangat subur jarak tanamnya 25 cm. Pemilihan ukuran jarak tanam bertujuan agar mendapat hasil yang optimal.

TUJUAN LEGOWO

Tujuan cara tanam legowo adalah :
  1. Memanfaatkan sinar matahari bagi tanaman yang berada pada bagian pinggir barisan. Semakin banyak sinar matahari yang mengenai tanaman, maka proses fotosintesis oleh daun tanaman akan semakin tinggi sehingga akan mendapatkan bobot buah yang lebih berat.
  2. Mengurangi kemungkinan serangan hama, terutama tikus. Pada lahan yang relatif terbuka, hama tikus kurang suka tinggal di dalamnya. 
  3. Menekan serangan penyakit. Pada lahan yang relatif terbuka, kelembaban akan semakin berkurang, sehingga serangan penyakit juga akan berkurang. 
  4. Mempermudah pelaksanaan pemupukan dan pengendalian hama / penyakit. Posisi orang yang melaksakan pemupukan dan pengendalian hama / penyakit bisa leluasa pada barisan kosong di antara 2 barisan legowo. 
  5. Menambah populasi tanaman. Misal pada legowo 2 : 1, populasi tanaman akan bertambah sekitar 30 %. Bertambahnya populasi tanaman akan memberikan harapan peningkata produktivitas hasil.

TEKNIK PENERAPAN
  • Pembuatan Baris Tanam
Persiapkan alat garis tanam dengan ukuran jarak tanam yang dikehendaki. Bahan untuk alat garis tanam bisa digunakan kayu atau bahan lain yang tersedia serta biaya terjangkau. Lahan sawah yang telah siap ditanami, 1-2 hari sebelumnya dilakukan pembuangan air sehingga lahan dalam keadaan macak-macak. Ratakan dan datarkan sebaik mungkin. Selanjutnya dilakukan pembentukan garis tanam yang lurus dan jelas dengan cara menarik alat garis tanam yang sudah dipersiapkan sebelumnya serta dibantu dengan tali yang dibentang dari ujung ke ujung lahan.
  • Tanam
Umur bibit padi yang digunakan sebaiknya kurang dari 21 hari. Gunakan 1-3 bibit per lubang tanam pada perpotongan garis yang sudah terbentuk. Cara laju tanam sebaiknya maju agar perpotongan garis untuk lubang tanam bisa terlihat dengan jelas. Namun apabila kebiasaan tanam mundur juga tidak menjadi masalah, yang penting populasi tanaman yang ditanam dapat terpenuhi. Pada alur pinggir kiri dan kanan dari setiap barisan legowo, populasi tanaman ditambah dengan cara menyisipkan tanaman di antara 2 lubang tanam yang tersedia.
  • Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan cara tabur. Posisi orang yang melakukan pemupukan berada pada barisan kosong di antara 2 barisan legowo. Pupuk ditabur ke kiri dan ke kanan dengan merata, sehingga 1 kali jalan dapat melalukan pemupukan 2 barisan legowo. Khusus cara pemupukan pada legowo 2 : 1 boleh dengan cara ditabur di tengah alur dalam barisan legowonya.
  • Penyiangan
Penyiangan bisa dilakukan dengan tangan atau dengan menggunakan alat siang seperti landak/gasrok. Apabila penyiangan dilakukan dengan alat siang, cukup dilakukan ke satu arah sejajar legowo dan tidak perlu dipotong seperti penyiangan pada cara tanam bujur sangkar. Sisa gulma yang tidak tersiang dengan alat siang di tengah barisan legowo bisa disiang dengan tangan, bahkan sisa gulma pada barisan pinggir legowo sebenarnya tidak perlu diambil karena dengan sendirinya akan kalah persaingan dengan pertumbuhan tanaman padi.
  • Pengendalian Hama dan Penyakit
Pada pengendalian hama dan penyakit dengan menggunakan alat semprot atau handsprayer, posisi orang berada pada barisan kosong di antara 2 barisan legowo. Penyemprotan diarahkan ke kiri dan ke kanan dengan merata, sehingga 1 kali jalan dapat melakukan penyemprotan 2 barisan legowo. 

mari berbagi ......
Read more

06 Juli 2011

Aplikasi tanaman Mentimun

0 komentar
Dosis Total per hektar :  - +  2 – 3 liter

Perlakuan Benih :
1.    Larutkan 2 tutup botol ( 20 ml ) HERBAFARM ke dalam 2 liter air, rendam benih selama 1 jam.
2.    Siapkan polibag kecil ( 5 x 7 ) diisi dengan media tanah subur dan kompos ( 1 : 1 ). Siram media dengan air sampai jenuh, kemudian benih ditanam sedalam 0,5 cm.
3.    Semprot bibit dan media tanam dengan larutan HERBAFARM sebanyak 2 ml per liter air setiap 7 hari sekali. Setelah 2 minggu ( mempunyai 2 helai daun ) bibit siap dipindah ke lahan.

Pengolahan Tanah :
·       Lahan dicangkul halus dan dibuat bedengan dengan lebar 1 m, tinggi 30 cm dengan panjang mengikuti lahan. Jarak antar bedengan 50 cm. Taburkan pupuk kandang ( kompos ) sebanyak 5 ton dan Dolomit setengah dari dosis anjuran ( -+ 0,5 ton / ha ) di atas bedengan, kemudian semprot dengan larutan HERBAFARM 5 tutup botol per tangki.

Perlakuan benih :
1.    Lahan dicangkul halus dan dibuat bedengan dengan lebar 1 m, tinggi 30 cm dengan panjang mengikuti lahan. Jarak antar bedengan 50 cm. Taburkan pupuk kandang ( kompos ) sebanyak 3 ton dan Dolomit setengah dari dosis anjuran ( -+ 0,5 ton / ha ) di atas bedengan, kemudian semprot dengan larutan HERBAFARM 5 tutup botol per tangki.
2.    Tutup lahan dengan mulsa plastik, kemudian lahan di Leb / di airi dan dibiarkan selama 2 hari, baru siap untuk ditanam.

Pemeliharaan Tanaman :
1.    larutkan 1 – 3 tutup botol ( 10 – 30 ml ) HERBAFARM per tangki air.
2.    semprot merata pada permukaan bawah daun dan tanah sekitar tanaman.
3.    Aplikasi pada umur 10 hari setelah tanam dan selanjutnya dilakukan setiap 10 hari sekali.
4.    pemupukan kimia / organik dilakukan sesuai anjuran dinas setempat dengan dosis setengah dari dosis anjuran.


Read more

30 Juni 2011

PEMUPUKAN PADI SAWAH

2 komentar



Read more

02 April 2011

Aplikasi Tanaman Jagung dengan Herbafarm

0 komentar
Dosis Total per Hektar : - +  5 – 6 liter

Perlakuan Benih :
Larutkan 2 tutup botol  ( 20 ml ) HERBAFARM ke dalam 2 liter air, rendam benih selama satu jam. Benih dapat langsung ditanam pada lahan yang sudah disiapkan sebelumnya.

Pengolahan Tanah :
1.    lahan dicangkul halus dan dibuat baris dengan jarak 80 cm. Kebutuhan pupuk kandang ( kompos ) sebanyak 3 ton, digunakan untuk menutup benih pada tugalan. Pupuk urea sebanyak setengah dari dosis anjuran ( - + 50 kg / ha ) dan SP – 36 sebanyak setengah dari dosis anjuran ( - + 50 kg ), diberikan pada jarak 5 cm dari lubang benih.
2.    setelah benih ditanam, semprot larikan dengan larutan HERBAFARM 2 – 3 tutup botol per tangki.

Pemeliharaan Tanaman :
1.     Aplikasi pada umur 10 hari setelah tanam
Larutkan 1 – 3 tutup botol ( 10 – 30 ml ) HERBAFARM per tangki air. Semprot merata pada permukaan bawah daun dan tanah sekitar tanaman.
2.     Aplikasi pada umur 20 hari setelah tanam
Larutkan 1 – 3 tutup botol ( 10 – 30 ml ) HERBAFARM per tangki air. Semprot merata pada permukaan bawah daun dan tanah sekitar tanaman.
3.     Aplikasi pada umur 25 hari setelah tanam
Berikan pupuk Urea sebanyak setengah dari dosis anjuran ( - + 75 kg / ha ), tanam dengan jarak 10 cm dari batang.
4.     Aplikasi pada umur 30 hari setelah tanam
Larutkan 1 – 3 tutup botol ( 10 – 30 ml ) HERBAFARM per tangki air. Semprot merata pada permukaan bawah daun dan tanah sekitar tanaman.
5.     Aplikasi pada umur 40 hari setelah tanam
Larutkan 1 – 3 tutup botol ( 10 – 30 ml ) HERBAFARM per tangki air. Semprot merata pada permukaan bawah daun dan tanah sekitar tanaman.
6.     Aplikasi pada umur 40 hari setelah tanam
Berikan pupuk Urea sebanyak setengah dari dosis anjuran ( - + 75 kg ) dan KCL sebanyak setengah dari dosis anjuran ( - + 25 kg / ha ), tanam dengan jarak 15 cm dari batang.                                  
Read more

Cari berita blog

DAFTAR

YANG SERING DIBACA

ARTIKEL PERTANIAN

 
 BP3K PEDES _ KARAWANG 2008    -PEMILIK-  Karawang_Jawa Barat email:bp4k.pedes@gmail.com