12 Agustus 2016

MEMELIHARA INDUK IKAN

0 komentar
SELEKSI INDUK

Seleksi induk merupakan tahap awal dalam kegiatan budidaya ikan yang sangat menentukan keberhasilan produksi.  Dengan melakukan seleksi induk yang benar akan diperoleh induk yang sesuai dengan kebutuhan sehingga produktivitas usaha budidaya ikan optimal. 

Seleksi induk ikan budidaya dapat dilakukan secara mudah dengan memperhatikan karakter fenotipenya atau dengan melakukan program breeding untuk meningkatkan nilai pemuliabiakan ikan budidaya.  Induk ikan yang unggul akan menghasilkan benih ikan yang unggul. Di Indonesia saat ini belum ada tempat sebagai pusat induk ikan  yang menjamin keunggulan setiap jenis ikan.  Induk ikan yang unggul pada setiap kegiatan usaha budidaya ikan dapat berasal dari hasil budidaya atau menangkap ikan di alam. Karakteristik induk yang unggul untuk setiap jenis ikan sangat berbeda.

Hal-hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para pembudidaya ikan dalam melakukan seleksi induk agar tidak terjadi penurunan mutu induk antara lain adalah :

  • Mengetahui asal usul induk

2.      Melakukan pencatatan data  tentang umur induk, masa reproduksi dan waktu pertama kali dilakukan pemijahan sampai usia produktif. Melakukan seleksi induk berdasarkan kaidah genetik  Melakukan pemeliharaan calon induk sesuai dengan proses budidaya sehingga kebutuhan nutrisi induk terpenuhi. 
  •       Mengurangi kemungkinan perkawinan sedarah 

Untuk meningkatkan mutu induk yang akan digunakan dalam proses budidaya maka induk yang akan digunakan harus dilakukan seleksi.  Seleksi ikan bertujuan untuk memperbaiki genetik dari induk ikan yang akan digunakan. Oleh karena itu dengan melakukan seleksi ikan yang benar akan dapat memperbaiki genetik ikan tersebut sehingga dapat melakukan pemuliaan ikan.

Tujuan dari pemuliaan ikan ini adalah menghasilkan benih yang unggul dimana benih yang unggul tersebut diperoleh dari induk ikan hasil seleksi agar dapat meningkatkan produktivitas.  Produktivitas dalam budidaya ikan dapat ditingkatkan dengan beberapa cara yaitu : 
Ekstensifikasi yaitu meningkatkan produktivitas hasil budidaya dengan memperluas lahan budidaya.
Intensifikasi yaitu meningkatkan produktivitas hasil dengan meningkatkan hasil persatuan luas dengan melakukan manipulasi terhadap factor internal dan eksternal. 

Dengan bertambahnya jumlah penduduk sepanjang tahun dan jumlah lahan budidaya yang tidak akan bertambah jumlahnya, maka untuk meningkatkan produktivitas budidaya masa yang akan dating lebih baik menerapkan budidaya ikan yang intensif dengan memperhatikan aspek ramah lingkungan.  Program intensifikasi dalam bidang budidaya ikan dapat dilakukan antara lain adalah :
1.    Rekayasa faktor eksternal yaitu lingkungan hidup ikan dan pakan, contoh yang sudah dapat diaplikasikan adalah budidaya ikan pada kolam air deras dan membuat pakan ikan ramah lingkungan.
2.    Rekayasa faktor internal yaitu melakukan rekayasa terhadap genetik ikan pada level gen misalnya transgenik, level kromosom misalnya Gynogenesis, Androgenesis,  Poliploidisasi, level sel misalnya dengan melakukan transplantasi sel.
3.    Rekayasa faktor eksternal dan internal yaitu menggabungkan antara kedua rekayasa eksternal dan internal.

Oleh karena itu agar dapat memperoleh produktivitas yang tinggi dalam budidaya ikan harus dilakukan seleksi terhadap ikan yang akan digunakan. Seleksi menurut Tave (1995) adalah program breeding yang memanfaatkan phenotypic variance (keragaman fenotipe) yang diteruskan dari tetua kepada keturunannya. Keragaman fenotipe merupakan penjumlahan dari keragaman genetik, keragaman lingkungan dan interaksi antara variasi lingkungan dan genetik.  Seleksi merupakan aplikasi genetic dimana informasi genetik dapat digunakan untuk melakukan seleksi. 

Seleksi ikan yang paling mudah dilakukan oleh para pembudidaya ikan adalah melakukan seleksi fenotipe dibandingkan dengan seleksi genotipe.  Seleksi fenotipe dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu seleksi fenotipe kualitatif dan seleksi fenotipe kuantitatif. Menurut Tave (1986), seleksi fenotipe kualitatif adalah seleksi ikan berdasarkan sifat kualitatif seperti misalnya warna tubuh, tipe sirip, pola sisik ataupun bentuk tubuh dan bentuk punggung dan sebagainya yang diinginkan. 

Fenotipe kualitatif ini merupakan sifat yang tidak dapat diukur tetapi dapat dibedakan dan dikelompokkan secara tegas. Sifat ini dikendalikan oleh satu atau beberapa gen dan sedikit atau tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Sedangkan seleksi fenotipe kuantitatif adalah seleksi terhadap penampakan ikan atau sifat yang dapat diukur,dikendalikan oleh banyak pasang gen dan dipengaruhi oleh lingkungan. Adapun ciri-ciri atau parameter yang dapat diukur antara lain adalah panjang tubuh, bobot, persentase daging, daya hidup,kandungan lemak, protein,fekunditas dan lain sebagainya. Fenotipe adalah bentuk luar atau bagaimana kenyataannya karakter yang dikandung oleh suatu individu atau fenotipe adalah setiap karakteristik yang dapat diukur atau sifat nyata yang dipunyai oleh organisme. 

Fenotipe merupakan hasil interaksi antara genotipe dan lingkungan serta interaksi antara genotipe dan lingkungan serta merupakan bentuk luar atau sifatsifat yang tampak. Menurut Yatim (1996), genotype menentukan karakter sedangkan lingkungan menetukan sampai  dimana tercapai potensi itu.  Fenotipe tidak bisa melewati kemampuan atau potensi genotipe.  Yang dimaksud dengan karakter itu adalah sifat fisik dan psikis bagian-bagian tubuh atau jaringan.  Karakter diatur oleh banyak macam gen, atau satu gen saja. Berhubung dengan banyaknya gen yang menumbuhkan karakter maka dibuat dua kelompok karakter yaitu karakter kualitatif dan karakter kuantitatif.  Karakter kualitatif adalah karakter yang dapat dilihat ada atau tidaknya suatu karakter.  Karakter ini tidak dapat diukur atau dibuat gradasi (diskontinyu).

Sedangkan karakter kuantitatif adalah karakter yang dapat diukur nilai atau derajatnya, sehingga ada urutan gradasi dari yang rendah sampai yang tinggi (kontinu).  Karakter kuanlitatif ditentukan ole satu atau dua gen saja sedangkan karakter kuantitatif disebabkan oleh banyak gen (tiga atau lebih). Dengan melakukan seleksi maka akan menghasilkan suatu karakter yang mempunyai nilai ekonomis penting dan karakter fenotipe yang terbaik sesuai dengan keinginan para pembudidaya.

Untuk mendapatkan induk ikan yang unggul dilakukan program seleksi dengan menerapkan beberapa program pengembangbiakan antara lain dengan kegiatan selective breeding, hibridisasi/outbreeding/ crossbreeding, inbreeding, monoseks/seks reversal atau kombinasi beberapa program breeding.  Dalam bab ini akan dibahas semua program breeding tersebut sehingga dalam budidaya ikan akan diperoleh hasil baik induk dan benih yang unggul.  Induk yang unggul akan menghasilkan benih yang unggul sehingga dengan memelihara benih unggul proses budidaya akan menguntungkan dengan melihat laju pertumbuhan ikan yang optimal sehingga produktivitas budidaya ikan akan meningkat.






Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk Ikan dilakukan untuk menumbuhkan dan mematangkan gonad (sel telur dan sperma) ikan. Dalam pemeliharaan induk dilakukan dengan beberapa pendakatan diantaranya pendekatan lingkungan, pendekatan pakan, dan pendekatan hormonal.

Persiapan Wadah
Wadah pemeliharaan induk disebut bak atau kolam induk. Sebelum digunakan, bak atau kolam harus disanitasi terlebih dahulu melalui desinfeksi. Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi:
  • Pengeringan untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
  • Pengapuran dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
  • Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara) untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 g (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
  • Pemasukan air dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah:
  • Pembersihan bak dari kotoran atau sisa pembenihan sebelumnya.
  • Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air dapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama seperti pada tipe kolam.


Penebaran Induk
Induk yang dipelihara tidak terlalu banyak, hanya 1-2 kg per m2 luas kolam atau hanya 4 ekor per m2 dengan ketinggian air di kolam induk antara 60-75 cm (dalam praktikum, bobot induk jantan adalah 0,9 kg dan induk betina 1 kg). Dalam pemeliharaan induk, sebaikanya induk jantan dipelihara secara terpisah dengan induk betina. Hal ini dilakukan agar lebih memudahkan dalam pengelolaan, pengontrolan, dan yang terpenting untuk mencegah terjadinya “mijah maling” atau pemijahan yang tidak dikehendaki.

Pemberian Pakan
Agar diperoleh kematangan gonad induk yang memadai, setiap hari induk diberi pakan bergizi. Jenis pakan yang diberikan yaitu pakan buatan berupa pellet sebanyak 3-5% per hari dari total bobot induk yang dipelihara. Selain itu juga perlu adanya manajemen pemberian pakan induk yang baik seperti feeding time, feeding frekuensi, feeding schedule, feeding kind, feeding methods, dan feeding site. Manajemen pemberian pakan induk ini berpengaruh pada pematangan gonad induknya.

Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan induk. Pengelolaan kualitas air berfungsi agar kondisi air yang digunakan sebagai tempat hidup ikan lele terbebas dari pathogen dan bahan lain yang beracun, menjaga stabilitas suhu, pH, dan ketersediaan oksigen dalam air serta sistem pengairan pada kolam induk yang terdiri dari saluran inlet dan outlet.

Seleksi Induk dan Pemeriksaan Kematangan Gonad
Seleksi induk dan pemeriksaan tingkat kematangan gonad dilakukan karena tidak semua induk itu telah matang gonad dan siap dipijahkan. Sebelum dipijahkan, induk lele betina dan induk lele jantan diseleksi sesuai persyaratan. Secara umum, kriteria induk yang bagus untuk dipijahkan diantaranya sehat, lincah, tidak cacat, cukup umur (matang gonad), dan asal usul yang berkaitan dengan tujuan genetik. Adapun ciri-ciri induk lele betina yang siap untuk dipijahkan sebagai berikut:
  • Bagian perut tampak membesar kea rah anus dan jika diraba terasa lembek.
  • Lubang kelamin (urogenital) berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
  • Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna hijau tua dan ukurannya relatif besar dan homogen.
  • Pergerakan lamban.

Ciri-ciri induk jantan yang siap untuk dipijahkan sebagai berikut:
  • Ujung alat kelamin (genital papilla) tampak jelas memerah.
  • Tubuh ramping dan gerakan lincah.

Dalam pemeliharaan induk ikan lele, ada beberapa hal yang penting diperhatikan yang berhubungan dengan tingkah lakunya, yaitu:
1.      Kanibalisme, yaitu ikan-ikan saling memangsa dimana ikan besar memangsa ikan yang berukuran kecil, terutama saat kondisi kekurangan pakan (lapar). Untuk menghindari sifat kanibal hendaknya pakan diberikan dalam jumlah yang cukup kepada ikan lele yang kita pelihara. Disamping itu penyortiran untuk memisahkan ikan yang besar dan kecil penting dilaksanakan.
2.      Rheo taxis,ikan lele akan berenang dan mengikuti arah atau melawan arus air. Apabila terdapat air yang masuk atau keluar dari kolam yang bocor ikal lele akan bisa lolos melalui tempat yang bocor tersebut. Oleh sebab itu hendaknya jangan sampai terdapat kebocoran pada kolam pemeliharaan.
3.      Ikan lele dapat loncat setinggi ± 0,5 m, dan melata di atas tanah. Ini dapat mengakikatkan ikan lele lolos dari wadah pemeliharaan. Untuk menghindari lolosnya ikan lele sebaiknya pematang dibuat tinggi atau kolam ditutup dengan jaring, bisa juga dipasang pagar yang tinggi terbuat dari bambu.
4.      Ikan nocturnal,yaitu aktif mencari makan pada malam hari. Agar pemberian pakan efektip maka sebaiknya dilakukan pada malam hari Oleh karena itu dalam pemeliharaan induk, agar induk dapat hidup sehat dan dapat selalu siap memijah sesuai waktunya, disamping memperhatikan hal-hal tersebut di atas, juga perlu memperhatikan hal-hal seperti: pemberian pakan, pengelolaan kualitas dan kuantitas air, dan pengendalian hama dan penyakit.

Pemberian Pakan
Agar diperoleh kematangan induk yang memadai, setiap hari induk di beri pakan bergizi. Jenis pakan yang diberikan yaitu pakan buatan berupa pellet sebanyak 3-5 % perhari dari dari total bobot induk yang dipelihara. Ada juga induk lele diberi pakan berupa limbah peternakan ayam (ayam mati) yang dibakar atau direbus atau dibakar terlebih dahulu. Pakan diberikan dua sampai tiga kali sehari pada pagi, sore dan malam hari.

Pengelolaan Kualitas Air
Dalam pemeliharaan induk lele dumbo, kualitas air tidak terlalu berpengaruh. Induk lele dumbo termasuk ikan yang mampu hidup pada kondisi kualitas air yang jelek sekalipun, asalkan air tidak tercemar oleh limbah kimia berbahaya. Karena kemampuannya hidup pada perairan yang terbatas sekalipun, maka sering induk lele dumbo ini dipelihara pada bak atau wadah yang airnya tidak mengalir.
Agar lele dumbo dapat hidup dengan nyaman yang perlu diperhatikan adalah volume atau ketinggian air wadah jangan sampai berkurang. Ketinggian air sebaiknya dipertahankan minimal 75 cm agar induk tidak mudah stres oleh gangguan dari lingkungan sekitar seperti suara bising, lalu-lalang orang, dan sebagainya.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang sering mengganggu induk lele dumbo adalah berupa biawak, ular, dan ikan-ikan predator seperti gabus, belut, atau dari teman-temannya sejenis yang berukuran lebih besar. Predator umumnya mengganggu apabila pada lingkungan perairan tidak tersedia cukup pakan, sehingga terjadilah pemangsaan kepada ikan yang lebih kecil. Sedangkan penyakit relatif jarang menyerang. Namun jenis-jenis jamur Saprolegnia sp, kadang-kadang sering menyerang, terutama sehabis indukinduk ikan selesai memijah. Biasanya jamur menyerang apabila terdapat luka pada tubuh induk ikan.

Pemilihan Induk Matang Gonad

Tidak semua induk yang dipelihara dapat dipijahkan. Hal ini disebabkan karena belum tentu semua induk telah matang kelamin dan siap dipijahkan. Sebelum dipijahkan, induk jantan dan betina dipilih sesuai dengan persyaratan. Salah satu persyaratan yang mutlak adalah induk telah berumur 1 tahun, baik jantan maupun betina. Pemilihan induk dilakukan dengan cara mengeringkan kolam induk, baik kolam induk jantan maupun betina, sehingga induk-induk lele dumbo akan terkumpul. Selanjutnya induk-induk tersebut ditangkap dengan menggunakan seser dan ditampung dalam wadah seperti drum/tong plastik.
Read more

26 Februari 2015

PEMIJAHAN IKAN GURAME

0 komentar
Ikan Gurame (Osphronemus goramy)
Ikan Gurame (Osphronemus goramy) dikenal sebagai ikan air tawar yang sangat populer dan digemari oleh masyarakat umumnya bahkan sampai diseluruh Asia Tenggara dan Asia Selatan.  Ikan Gurame ini merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici, berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat,Indonesia), dan menyebar ke Malaysia, Thailands, Ceylon dan Australia.

Mengingat  ikan gurame ini enak dan lezat rasanya maka tidak heran jika perminataan dari para konsumen semakin banyak dan bertambah  bahkan hingga kini Ikan gurami merupakan ikan yang cukup istimewa dan menjadi ikan faforit sebagai rajanya ikan air tawar.

Untuk postingan pada kesempatan ini saya akan menjelaskan tentang Usaha Pembenihan Ikan gurami.

Kegiatan usaha pembenihan ikan Gurami ini memegang peranan penting dalam penyediaan benih yang akan dibesarkan sampai ukuran konsumsi.  Pada umumnya Kendala pembenihan gurami di kolam adalah tingginya tingkat mortalitas, terutama dari larva hasil tetasan sampai benih ukuran 1 cm. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan penerapan teknik memelihara benih kecil (larva) dengan menggunakan akuarium, bak semen atau paso seperti halnya pada ikan hias. Dengan teknik ini maka semua tahap pembenihan mulai dari penetasan telur sampai pendederan benih dapat dikontrol secara efektif.  Penggunan air dengan kualitas yang baik menjadi penunjang keberhasilan pembenihan gurami.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam usaha pembenihan khususnya ikan Gurame adalah sebagai berikut:

1. Persiapan Kolam Pemijahan

Persiapan kolam untuk pemijahan induk ikan gurami meliputi :

a. Pengeringan kolam

Sebelum dilakukan pemijahan kolam perlu dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan kolam pemijahan sebaiknya dilakukan selama 2 – 3 hari. Adapun maksud dan tujuan dari pada  pengeringan kolam ini adalah untuk:
1. Membunuh hama dan sumber penyakit yang terdapat pada kolam.
2. Menghilangkan nitrit yang ada di dasar kolam,
3. Memberikan suasana baru bagi induk ikan gurami yang akan dipijahkan, karena tanah yang kering akan memiliki bau yang khas saat terendam air yang akan merangsang induk ikan untuk memijah, dan  menumbuhkan kelekap (plankton) di pinggir-pinggir kolam sebagai persediaan pakan bagi induk gurami, dan induk siap dimasukkan ke kolam pemijahan.


b. Pembersihan

Sebelum pemijahan dilakukan Kolam juga perlu dilakukan Pembersihan termasuk pada pematang yang dimulai dari rumput-rumput liar agar tidak dijadikan tempat penempelan sarang telur oleh induk gurami atau tempat persembunyian hama pengganggu dan juga supaya bersih dari gangguan hama penyakit.


c. Pengisian air kolam

Pengisian air kolam ini dilakukan dengan ketinggian 70 – 100 cm, sehingga gurami memerlukan perairan yang airnya relatif dalam bagi pergerakannya tersebut.


d. Memasang kerangka sarang dan bahan pembentuk sarang,

Memasang kerangka sarang dan bahan pembentuk sarang serta tidak jauh dari sosog, dibuat para-para dari bambu untuk meletakkan ijuk, sabut kelapa atau bahan sejenis yang dapat dijadikan sarang oleh induk gurami untuk memudahkan induk gurami membuat sarang dan meletakkan telur.


2. Seleksi Induk

Gurami yang akan dijadikan induk berumur kurang lebih 4 tahun dengan berat 2 – 3 kg untuk jantan, dan umur minimal 3 tahun dengan berat 2 – 2,5 kg untuk betina Masa produksi optimal induk betina berlangsung selama 5 – 7 tahun.


Ciri-ciri fisik induk jantan dan betina pada ikan gurami :


  • Induk gurami jantan : dahi menonjol (nonong), dagu tebal (lebih menonjol), perut meruncing, susunan sisik normal (rebah) gerakan lincah.
  • Induk gurami betina : dahi lebih rata (tidak ada tonjolan), dagu tidak menebal, perut membundar, susunan sisik agak terbuka, gerakan agak lamban.


Kriteria kualitatif
  • Warna : badan berwarna kecoklatan dan bagian perut berwarna putih keperakan atau kekuning-kuningan.
  • Bentuk tubuh : pipih vertikal.
  • Asal : hasil pembesaran benih sebar yang berasal dari induk ikan kelas induk dasar.
  • Kesehatan : anggota atau organ tubuh lengkap, tubuh tidak cacat dan tidak ada kelainan bentuk, alat kelamin tidak cacat (rusak), tubuh bebas dari jasad patogen, insang bersih, tubuh tidak bengkak/memar dan tidak berlumut, tutup insang normal dan tubuh berlendir


Kriteria kuantitatif
  • Umur : Jantan (24-30 bulan) dan betina (30-36 bulan)
  • Panjang standar : jantan (30-35 cm) dan betina (30-35 cm)
  • Bobot badan : jantan (1,5-2,0 kg)dan betina (2,0-2,5 kg)
  • Fekunditas : 1.500-2.500 butir/kg (betina)
  • Diameter telur : 1,4-1,9 mm (betina)


3. Pemijahan

Induk dapat dipelihara pada kolam tembok/ tanah, baik secara massal maupun berpasangan dengan sistem sekat. Kolam pemeliharaan induk sekaligus berfungsi untuk kolam pemijahan dengan kepadatan penebaran 1 ekor/m2. Untuk kegiatan pemijahan dapat menggunakan perbandingan induk jantan : betina = 1 : 3-4.

Pakan yang diberikan berupa pelet terapung (kadar protein ± 28% sebanyak 2% biomass/hari dan daun sente/talas sebanyak 5% bobot biomass/hari.  Untuk memudahkan induk jantan membangun sarang, kolam induk diberi tempat dan bahan sarang.  Tempat sarang berupa keranjang plastik bulat diameter 20-25 cm atau tempat lain yang serupa yang ditempatkan pada kedalaman 10-15 cm dibawah permukaan air.  Induk jantan akan mencari tempat yang aman dan tenang untuk membuat sarang sebagai tempat menyimpan telur, dengan memungut bahan sarang (ijuk, sabut kelapa dll) yang telah dipersiapkan di atas permukaan kolam.

Sarang yang telah berisi telur dapat ditandai bila pada permukaan air di atas sarang terdapat lapisan minyak. Lapisan minyak tersebut berasal dari telur-telur yang pecah. Selain itu sarang yang telah berisi telur biasanya tertutup bahan sarang ( ijuk ) yang dibuat oleh induk jantan, dan induk jantan akan menjaga sarang tersebut. Sarang yang telah berisi telur dipindahkan ke dalam waskom atau ember untuk diambil telurnya dan selanjutnya memindahkan telur ke tempat penetasan.


4. Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva

Larva Ikan Gurame
Bila sudah dipastikan bahwa sarang sudah berisi telur, maka sarang dapat dipanen untuk dipindahkan ke tempat penetasan telur. Panen dilakukan dengan mengangkat sarang secara hati-hati ke dalam ember yang berisi air kolam. Penggunaan air kolam dimaksudkan agar kondisi air tidak berubah (sama) untuk mengurangi kematian telur.

Untuk membedakan telur yang hidup dan mati dapat dilihat dari warnanya. Telur yang hidup berwarna kuning cerah bening atau transparan, telur yag mati/rusak berwarna kusam, kuning muda agak keputih-putihan.  Telur mengalami kematian karena tidak dibuahi. Telur tersebut dengan cepat diserang cendawan berwarna putih yang disebut Saprolegnia. Setelah terserang, telur mati akan membusuk dan akan mengganggu perkembangan telur yang hidup.  

Wadah penetasan yang digunakan bisa berupa bak-bak atau ember plastik, paso, atau akuarium. Kepadatan telur 150-175 butir per liter. Wadah penetasan ini telah dipersiapkan 1-2 hari sebelumnya dengan diisi air kolam dan air bersih. Ketinggian air disarankan sekitar 20 cm, kemudian diberi larutan methylene blue sebanyak 1 cc/ liter untuk mensucihamakan air di wadah penetasan. Sehari sebelum telur dimasukkan, air dalam bak penetasan diaerasi terlebih dahulu agar cukup mengandung oksigen. Telur akan menetas dalam waktu 30 – 36 jam.



Setelah telur menetas, terbentuk larva yang masih mempunyai kantong kuning telur. Kuning telur akan habis 10 - 12 hari kemudian dan pada saat itulah larva mulai membutuhkan pakan yang disesuaikan dengan bukaan mulut ikan.  Fitoplankton dan zooplankton merupakan pakan alami yang dapat diperoleh dengan cara memupuk kolam dengan pupuk kandang, misalnya kotoran ayam pedaging. Pakan selanjutnya. 
Read more

BERITA BLOG

Total Tayangan Laman

Encum Nurhidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

STOPGREK

STOPGREK
INSEKTISIDA SUPERIOR

PREDATOR SERANGGA

PREDATOR SERANGGA
Komentar di kolom ini...!!


Cari berita blog

Memuat...

DAFTAR

YANG SERING DIBACA

BLB KLINSTOP

BLB KLINSTOP
FUNGISIDA DAUN DAN BULIR PADI

ARTIKEL PERTANIAN

KENANGAN DI CIRATA

Loading...

TAMBISTAN

TAMBISTAN
MOLUKUSIDA RACUN KEONG
 
 BP3K PEDES _ KARAWANG 2008    -PEMILIK-  Karawang_Jawa Barat email:bp4k.pedes@gmail.com