27 Juli 2011

ANALISA USAHATANI DAN TATANIAGA PADI VARIETAS UNGGUL

Sistem ketahanan pangan merupakan persoalan tentang penyediaan bahan pangan pokok dalam dimensi kuantitas, kualitas, ruang dan waktu bagi seluruh masyarakat. Dalam bahasa ekonomi masalah ketahanan pangan menyangkut persoalan ekonomi produksi, distribusi dan konsumsi.

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi 95 persen penduduk Indonesia. Indonesia berhasil berswasembada beras pada tahun 1984. 

Dua dasawarsa terakhir ketersediaan beras nasional hanya mampu memenuhi 90 persen kebutuhan nasional. Ketersediaan beras dipengaruhi oleh beberapa faktor. 
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan beras adalah luas areal panen (usahatani), produksi beras atau gabah, dan jumlah penduduk. Peningkatan produksi padi di Indonesia belum mampu mencukupi permintaan kebutuhan masyarakat dalam negeri yang jumlahya semakin bertambah setiap tahunnya. Agar stok beras nasional tercukupi pemerintah melalui Bulog melakukan impor.

Besarnya volume impor beras menimbulkan berbagai pro-kontra di kalangan masyarakat. Volume impor beras menimbulkan masalah bagi petani padi di Indonesia, karena ketidakmampuan bersaing dalam permasalah harga. Konsumen lebih memilih beras impor karena harganya lebih murah dengan kualitas yang tidak berbeda. Hal ini menyebabkan penurunan pendapatan petani padi. Pemerintah setiap tahunnya berusaha untuk menurunkan nilai impor beras.

Untuk menurunkan nilai impor beras Indonesia, pemerintah melalui Departemen Pertanian mengeluarkan beberapa kebijakan pertanian. Kebijakan pertanian yang dikeluarkan Deptan meliputi kebijakan pertanian untuk komoditas padi, baik dari segi on farm maupun off farm-nya. Kebijakan dari segi on-farm diantaranya adalah mengeluarkan beberapa padi varietas unggul, pemberian subsidi untuk pupuk padi dll.

Sedangkan dari segi on farm-nya pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yang terkait dengan permodalan, tataniaga beras dan penyuluhan di bidang pertanian. Padi pandanwangi merupakan contoh padi varietas unggul yang sudah ditetapkan oleh negara melalui departemen pertanian. Padi varietas unggul pandan wangi juga dijadikan komoditas unggulan utama hasil pertanian pemerintah Kabupaten Cianjur. Status padi varietas unggul ini harus bisa dibuktikan keunggulan secara ilmiah. Tujuannya agar masyarakat, pemerintah dan khusuanya petani (pemilik dan penggarap) mengetahui keunggulan padi pandan wangi dibanding padi jenis lainnya. Analisis usahatani dan tataniaga pertanian merupakan salah satu alat untuk mengetahui keunggulan suatu usahatani dan tataniaga komoditas pertanian.

Analisis usahatani, terdiri atas analisis penerimaan, biaya dan pendapatan usahatani padi pandanwangi. Analisis tataniaga meliputi analisis fungsi, efisiensi, lembaga, saluran dan marjin tataniaga. Melalui kedua analisis tersebut, dapat digambarkan dimana letak keunggulan padi pandanwangi. 

Lembar kuisione analisis usahatani diiisi oleh petani pemilik dan penggarap. Hal tersebut berdasarkan pemilihan petani yang membudidayakan padi pandan wangi yang bersifat purpossive (sengaja). Wawancara terhadap petugas dari dinas pertanian, petugas ppl dan pengurus kelompok tani juga dilakukan, hal tersebut dikarenakan penelitian ini menggunakan metode participatory action riset.

Hasil analisis usahatani menunjukkan pendapatan yang dihasilkan oleh petani pemilik jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan petani penggarap. Hal itu dapat dilihat dari besarnya rasio R per C atas biaya tunai maupun atas biaya total petani pemilik (2,42 dan 1,19) dari petani penggarap (1,07 dan 1,08).  Berdasarkan analisis pendapatan, penerimaan dan rasio R per C atas biaya tunai dan atas biaya total, usahatani yang dilakukan oleh kedua jenis strata yaitu petani pemilik penggarap dan penggarap masih menguntungkan karena R per C rasio- nya lebih besar dari satu.

Pendapatan petani (pemilik dan penggarap) masih dapat ditingkatkan lagi karena dalam berusahatani petani masih belum dapat memksimalkan teknik budidaya yang lebih efisien. Hasil analisis tataniaga yang dilakukan adalah 
(1) Saluran tataniaga yang terbentuk dilokasi penelitian memasarkan beras pandanwangi murni dan beras pandanwangi campuran. Jumlah saluran yang memasarkan beras pandanwangi campuran (10 saluran) lebih banyak dibanding dengan yang murni (6 saluran). Analisis marjin tataniaga, biaya dan keuntungan tidak dilakukan pada saluran-saluran yang menjual beras pandanwangi campuran tidak dilakukan. Alasannya adalah beras pandanwangi campuran yang diperjualbelikan tidak dapat diasumsikan merupakan beras campuran yang memiliki perbandingan dalam jumlah yang sama, diantara lembaga-lembaga terkait dalam proses pengolahan dan pengemasannya. (2) Lembaga-lembaga yang terlibat dalam penyaluran beras dan tingkat petani hingga konsumen akhir adalah pedagang pengumpul, pedagang besar daerah dan luar daerah, pasar swalayan dan pedagang pengecer daerah dan luar daerah. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh
lembaga-lembaga tersebut berupa fungsi pertukaran (pembelian dan penjualan), fungsi pengadaan secara fisik (penyimpanan, pengolahan, pengangkutan) serta fungsi pelancar (sortasi dan grading). (3) sebaran nilai marjin saluran tataniaga beras pandanwangi murni jenis super dan kepala, yaitu dari 46,48 persen hingga 58,04 persen. Saluran E2 memiliki persentase nilai marjin beras jenis super yang  terkecil. 

Dengan demikian, maka saluran E2 adalah saluran yang lebih efisien bagi konsumen beras jenis super. Saluran A merupakan saluran beras jenis super yang paling efisien bagi penjual. Hal ini dikarenakan saluran A mempunyai biaya terkecil dan total keuntungan terbesar untuk beras jenis super dengan nilai persentase sebesar 13,12 dan 43,41.Untuk beras pandanwangi jenis kepala, saluran E1 merupakan saluran yang efisien bagi konsumen beras pandanwangi jenis kepala dengan nilai marjin tataniaga sebesar 48,93 persen. Nilai keuntungan saluran D1 sebesar 17,67 persen membuat dari harga konsumen membuat saluran ini efisien bagi penjual. 

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memperbaiki segi usahatani maupun tataniaga pandan wangi. Pertama, petani padi pandan wangi harus membuka diri untuk menerima dan mencari masukan dari pihak luar (instansi terkait dan pemerintah) terutama tentang teknik budidaya yang efisien dan efektif, tujuannya agar dapat menghemat biaya tunai yang dikeluarkan. Kedua, pemerintah harus menggalakkan dan mengembangkan kembali pembentukan

kelompok tani dengan jalinan mitra usaha antar petani (dalam hal ini kelompok tani) dengan salah satu pedagang besar. Setelah itu, pemerintah daerah harus memberikan rangsangan berupa penghargaan dan hadiah kepada petani/kelompok tani/gabungan kelompok tani yang berprestasi dalam berusahatani padi pandan wangi baik dari aspek budidaya dan tataniaganya, sehingga banyak petani yang ingin berusahatani pandan wangi. Ketiga, Pihak pemerintah harus mendorong para petani yang sudah tergabung dalam suatu kelompok tani dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) untuk melakukan fungsi-fungsi tataniaga, sehingga dapat meningkatkan nilai jual produknya.

4 komentar:

Didi's mind mengatakan...

salam kenal pak,ikut belajar pertanian

http://akuhanyaseorangtukang.blogspot.com/

Encum Nurhidayat mengatakan...

MANGGA YI

omyosa mengatakan...

MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA
(dengan bertani cara gabungan SRI, PO, dan jajar legowo)

Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.
Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 — 8 ton/hektar.
Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi.
Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010).

Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik.
SRI sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.

Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini.
Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

Kami tawarkan solusi yang lebih praktis yang perlu dipertimbangkan dan sangat mungkin untuk dapat diterima oleh masyarakat petani kita untuk dicoba, yaitu:

“BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO / AVRON / NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO”, hasilnya lebih baik, bisa meningkat 1 — 4 kali disbanding pola bertani biasa.

Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 100% — 400% dibanding pola tanam konvensional seperti sekarang.

bersambung.....

omyosa mengatakan...

MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA
(dengan bertani cara gabungan SRI, PO, dan jajar legowo)


PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON/NASA merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah dengan kandungan asam amino paling tinggi yang penggunaannya sangat mudah,
sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan/merehabilitasi tanah rusak akibat penggunan pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali,
sementara itu yang dimaksud sistem jajar legowo adalah sistem penanaman padi yang diselang legowo/alur/selokan, bisa 2 padi selang 1 legowo atau 4 padi selang 1 legowo dan yang paling penting dalam tani pola gabungan ini adalah relative lebih murah.

CATATAN:
1. Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu ANDA MENJADI AGEN SOSIAL penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
2. Cara bertani organik tidak saja hanya untuk budidaya tanaman padi sawah, tetapi bisa juga untuk berbagai produk-produk Agro Bisnis yang meliputi pertanian (padi, palawija, buah dan sayuran), perkebunan, perikanan, dan peternakan.

Hasil panen setelah menggunakan Pupuk Ajaib SO
Kesaksian untuk tanaman pertanian tanpa pestisida kimia, dan perangsang tumbuh tambahan lainnya :
* Cabe Organik bias mencapai 6 kg/pohon, dan umur tanaman bisa sampai 3 tahun.
* Padi Organik bias mencapai rata-rata 16—24 ton / hektar.
* Bawang Merah Organik bisa mencapai diatas 24–36 ton / hektar
* Jamur Tiram Organik bisa meningkat 300 % dari biasanya, dan bebas ulat !
* Bawang Daun Organik bisa mencapai rata-rata 1 kg/batang
* Kol Organik bisa mencapai rata-rata 5-8 kg/pohon
* Sawit yg sudah tidak produktif bisa kembali lagi produktif, sedangkan yg diberi pupuk
kimia tidak ada perubahan
Kesaksian untuk hewan dan ikan tanpa vaksin, antibiotik, dan vitamin lainnya :
* Nila 3cm dirawat 2 minggu bisa sebesar umur 2 bulan padahal pakannya hanya
ampas tahu & bekatul.
* Bebek afkir yang biasanya telurnya hanya 10% bisa meningkat jadi 50% lebih.
* Sapi beratnya meningkat di atas 1,5 kg/hari padahal pakannya hanya daun-
daunan saja.
* Broiler bisa panen pada hari ke 28-29 berat 1,5-1,7 kg
* Pembibitan lele angka kematian bisa sampai pada 0%
* Budidaya belut bibit 3 bulan bisa mencapai berat rata-rata 500 gram/ ekor
* Lele 5—7 cm bisa panen dalam waktu 29 hari

Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?

Anda siap menjadi donatur bagi pekerja sosial agen penyebaran informasi, atau Anda sendiri merangkap sebagai pekerja sosial agen penyebaran informasi itu dilokasi sekitar anda berada, atau pada wilayah yang lebih luas lagi diseluruh Indonesia?

Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072, atau bisa juga komentar langsung di http://frigiddanlemahsahwat.blogspot.com/2011/07/pertanian-pembangunan-pertanian.html